“Dad, don’t be sad. This Ruben… (sic)”

Posted on May 26th, 2008 in autisme, family | No Comments »

Malam itu saya agak marah ke kakaknya Ruben. Setelah makan malam, masih di meja makan, saya bicara agak keras dengan dia. Sementara saya bicara, Ruben masih duduk di meja makan. Setelah pembicaraan kami selesai, tiba-tiba Ruben bertanya “Papa marah ya?”; dan saya jawab, “Iya, papa marah sama kakak”. Setelah itu saya naik ke ruang kerja.

Tidak berapa lama Ruben menyusul ke kamar kerja. Sambil mengambil majalah XY-Kids dari rak buku dia duduk di kursi. Tapi karena saya masih marah, saya minta dia untuk keluar dulu: “Ben, Ruben keluar dulu ya. Papa lagi mau sendirian di sini.” Dia jawab “Ok!”, lalu di keluar.

Eh, nggak lama kemudian dia masuk kembali ke ruang kerja. Berdiri di samping saya, terus dia bertanya lagi:

“Papa sedih ya?”.

“Iya,” jawab saya.

“Dad, don’t be sad. This Ruben… (sic)” Terus sambil bicara dia peluk saya.

Wow! THAT, folks, came out from the mouth of an autistic child! Katanya salah satu ciri anak autis adalah ’sibuk dengan dunianya sendiri.’ Ternyata anak saya tidak begitu; dia peka terhadap keadaan sekitarnya. Dia bisa merasakan kesedihan dan kemarahan orang yang dekat dia. Rasa marah dan sedih saya langsung hilang saat itu juga dan berganti dengan perasaan syukur.

Ini juga salah satu alasan (dan bukti?) kenapa saya tidak merasa terdorong untuk berdoa minta keadaan Ruben dipulihkan oleh Tuhan (ini juga yang saya katakan ke saudara-saudara saya). Yang saya lakukan selama ini adalah menaikkan syukur atas semua kemajuan dan perkembangan Ruben. Masalahnya Ruben itu SUDAH ditangani Tuhan Yesus. Kami orangtuanya tidak perlu minta lagi; it’s already in His hands!

Yang PERLU kami lakukan adalah menaikkan doa syukur untuk SEMUA perkembangan dan kemajuan yang bisa kami saksikan dalam kehidupan Ruben.


Tags: , ,

Tantrum lagi…

Posted on April 20th, 2008 in autisme, family | 2 Comments »

Hari Sabtu minggu lalu (19 April) Ruben ikut acara musikal di sekolahnya, judulnya “Aladdin: A Musical Performance”. Ruben kebagian peran jadi binatang; peran kecil hanya muncul 3 kali: sebentar di awal, sebentar di pertengahan dan sebentar di bagian penutup.

Latihannya hampir 3 minggu lebih, sampai-sampai Ruben bosan. Ruben bosan = bencana :-(

Jadi kita dapat laporan beberapa kali selama latihan kalau Ruben ganggu teman-temannya atau suka merebut barang teman-temannya.

Puncaknya waktu performance itu. Ruben sudah dikasih dispensasi boleh datang 1.5 jam sebelum performance mulai, sementara teman-temannya harus datang 4 jam sebelumnya. Untung waktu dipakaikan baju binatang dan make-up dia mau (tadinya nggak mau “make up rasa paku!” kalau ditanya kenapa nggak mau pakai make-up).

Waktu mulai muncul di awal performance, semua berjalan lancar. Dia terlihat bisa ikutin semua gerakan-gerakan yang harus dia hafal. Apalagi waktu dia lihat kita berdua di kursi penonton, kelihatan dia senang bisa tampil dengan ditonton orangtuanya.

Nah, di tengah-tengah performance, tiba-tiba Ani di telepon oleh psikolog sekolah yang awasin Ruben. Kita diminta ke belakang panggung karena Ruben tantrum!

Waktu kita ke belakang kita liat Ruben di lantai dipegang sama guru dan 2 orang dari LSD (Learning Support Dept.) dan dia lagi nangis-nangis. Nggak ngamuk (katanya sebelumnya udah ngamuk-ngamuk dan pukul orang). Langsung saya pangku dan Ani ajak dia ngomong, bujuk dia supaya nggak marah-marah lagi. Kaos dalamnya udah kotor dengan make-up yang belepotan dari mukanya dan kaos guru-guru itu juga kotor dengan makeup dari Ruben :-(

Akhirnya setelah dibujuk-bujuk dia mulai tenang. Psikolognya ngomong kalau bisa dimengerti kalau dia tantrum. Dia nunggu terlalu lama di belakang panggung dan dia bosan. Ditambah lagi pake kostum binatang yang panas dan pake make-up yang “rasa paku” (maksudnya yang terasa menusuk-nusuk di muka). Akhirnya di akhir performance dia masih bisa tampil dan sudah mulai senyum-senyum. Hanya Ani harus berdiri disamping panggung.

Lalu setelah performance selesai, dia langsung digantiin bajunya dan sebagai hadiah dia boleh bawa pulang trompet kertas yang dipakai performance itu. And he was a happy boy once again.

Pelajaran untuk kita, orangtuanya? Kita sepakat akan minta sekolah supaya lain kali Ruben tidak usah disertakan dalam acara-acara seperti itu, khususnya yang makan waktu lama (performance itu 1 jam, sementara latihannya hampir 3 minggu). Karena Ruben sendiri nggak merasakan manfaat ikut acara seperti itu, dan akhirnya hanya mengganggu semua orang.

Lebih baik dia ikut acara yang singkat (perlombaan menggambar misalnya) dan yang lebih bisa dia nikmati… misalnya, ya itu, menggambar. Dia kan senang sekali menggambar.


Tags: , ,