Ini cerita ringan pengalaman hari Minggu kemarin waktu saya ‘bolos’ gereja.
Jadi… hari Minggu kemarin saya bolos masuk gereja (yes, I’m a bad boy). Saya cuma anterin dan tungguin Orin masuk sekolah minggu. Yang antar Orin itu saya dan istri.
Sambil menunggu sekolah minggu selesai kami beli ketoprak di dekat gedung gereja. Itu alasannya istri saya ikut; dia mau jajan karena di seputar gereja banyak penjual makanan yang jual makanan yang enak-enak.
Sambil menikmati ketoprak saya mulai liat kiri-kanan. Terus mata tertarik memperhatikan seorang tukang jualan majalah yang sedang mengatur majalah-majalahnya di rak dagangannya.
Saya tertarik memperhatikan karena ingin tahu bagaimana dia memilah-milah jenis majalah di rak. Awalnya cukup tertib; majalah otomotif disusun di rak yang sama, lalu majalah wanita disusun di sebelahnya.
Tapi lama kelamaan kok makin nggak beraturan pengaturannya. Mulai saya komentar ke istri, “wah, si bapak makin nggak tertib ngatur majalahnya!”. Terus istri komentar balik, “eloe yang aneh… begituan diperhatikan. Terserah yang punya dagangannya dong!”
He..he..he.. iya juga, baru saya tersadar… (a) ngapain juga saya perhatikan, (b) itu ‘kan dagangannya orang, bukan punya saya, (c) jadi jangan ngomel kalau si tukang majalah ngaturnya pakai ‘aturannya’ sendiri yang nggak sama dengan saya
Seringkali kita (eh, maksudnya saya deh) suka ikut-ikutan ngurusin urusan orang, meskipun hanya sebatas di dalam hati; terus suka mulai protes kalau cara mengurusnya nggak ’sejalan’ sama cara kita.
Memang mesti belajar untuk tahan mulut DAN hati untuk terima kenyataan bahwa setiap orang punya caranya sendiri untuk menyelesaikan masalah. Selama cara mereka tidak merugikan orang lain (apa, coba, ruginya buat saya kalau tukang majalah itu pakai cara X untuk mengatur majalah di rak milik dia?), ya harus bisa diterima, mas!
Tags: family,
general,
personal,
Personal,
rants