Malam itu saya agak marah ke kakaknya Ruben. Setelah makan malam, masih di meja makan, saya bicara agak keras dengan dia. Sementara saya bicara, Ruben masih duduk di meja makan. Setelah pembicaraan kami selesai, tiba-tiba Ruben bertanya “Papa marah ya?”; dan saya jawab, “Iya, papa marah sama kakak”. Setelah itu saya naik ke ruang kerja.

Tidak berapa lama Ruben menyusul ke kamar kerja. Sambil mengambil majalah XY-Kids dari rak buku dia duduk di kursi. Tapi karena saya masih marah, saya minta dia untuk keluar dulu: “Ben, Ruben keluar dulu ya. Papa lagi mau sendirian di sini.” Dia jawab “Ok!”, lalu di keluar.

Eh, nggak lama kemudian dia masuk kembali ke ruang kerja. Berdiri di samping saya, terus dia bertanya lagi:

“Papa sedih ya?”.

“Iya,” jawab saya.

“Dad, don’t be sad. This Ruben… (sic)” Terus sambil bicara dia peluk saya.

Wow! THAT, folks, came out from the mouth of an autistic child! Katanya salah satu ciri anak autis adalah ’sibuk dengan dunianya sendiri.’ Ternyata anak saya tidak begitu; dia peka terhadap keadaan sekitarnya. Dia bisa merasakan kesedihan dan kemarahan orang yang dekat dia. Rasa marah dan sedih saya langsung hilang saat itu juga dan berganti dengan perasaan syukur.

Ini juga salah satu alasan (dan bukti?) kenapa saya tidak merasa terdorong untuk berdoa minta keadaan Ruben dipulihkan oleh Tuhan (ini juga yang saya katakan ke saudara-saudara saya). Yang saya lakukan selama ini adalah menaikkan syukur atas semua kemajuan dan perkembangan Ruben. Masalahnya Ruben itu SUDAH ditangani Tuhan Yesus. Kami orangtuanya tidak perlu minta lagi; it’s already in His hands!

Yang PERLU kami lakukan adalah menaikkan doa syukur untuk SEMUA perkembangan dan kemajuan yang bisa kami saksikan dalam kehidupan Ruben.


Tags: , ,